Dec 19, 2012


Maritim Indonesia : dalam Tinjauan History.

Oleh Dimas Riskyanto


Indonesia termasuk dalam lingkungan negara kepulauan, dimana mayoritas negara terdiri dari berbagai macam laut. Indonesia merupakan negara yang kaya akan biota laut, Indonesia harusnya bersyukur dan menjaga dengan teguh aspek dari maritim Indonesia. Jika ditinjau dari aspek History Indonesia sejak jaman kerajaan Majapahit dan Sriwijaya, Maritim Indonesia sudah dimanfaatkan untuk aspek perdagangan Internasional. Letak maritim Indonesia sangat strategis, jalur maritim Indonesia merupakan jalur utama untuk melakukan perdagangan Internasional. Pada sekitar abad ke-14 dan permulaan abad ke-15 terdapat lima jaringan perdagangan (commercial zones). Pertama, jaringan perdagangan Teluk Bengal, yang meliputi pesisir Koromandel di India Selatan, Sri Lanka, Burma (Myanmar), serta pesisir utara dan barat Sumatera. Kedua, jaringan perdagangan Selat Malaka. Ketiga, jaringan perdagangan yang meliputi pesisir timur Semenanjung Malaka, Thailand, dan Vietnam Selatan. Jaringan ini juga dikenal sebagai jaringan perdagangan Laut Cina Selatan. Keempat, jaringan perdagangan Laut Sulu, yang meliputi pesisir barat Luzon, Mindoro, Cebu, Mindanao, dan pesisir utara Kalimantan (Brunei Darussalam). Kelima, jaringan Laut Jawa, yang meliputi kepulauan Nusa Tenggara, kepulauan Maluku, pesisir barat Kalimantan, Jawa, dan bagian selatan Sumatera. Jaringan perdagangan ini berada di bawah hegemoni Kerajaan Majapahit.
Begitu Istimewanya maritim Indonesia, sangat penting kedudukannya di dunia Internasional. Kerajaan majapahit dan Sriwijaya mempunyai peranan penting dalam membangun maritim Indonesia. Tetapi sejak masuknya VOC maritim Indonesia mengalami kemunduran, hal ini diakibatkan karena  terjadinya Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 antara Belanda dengan Raja Surakarta dan Yogyakarta mengakibatkan kedua raja tersebut harus menyerahkan perdagangan hasil wilayahnya kepada Belanda. Sejak itu, terjadi penurunan semangat dan jiwa bahari bangsa Indonesia, dan pergeseran nilai budaya, dari budaya bahari ke budaya daratan. Namun demikian, budaya bahari Indonesia tidak boleh hilang karena alamiah Indonesia sebagai negara kepulauan terus menginduksi, membentuk budaya bahari bangsa Indonesia. Sebenarnya Maritim Indonesia mempunyai keunggulan di antara negara negara Asia Tenggara, karena letak dari maritim Indonesia sangat strategis. Masyarakat Indonesia harusnya bisa mengelolah maritim Indonesia dengan baik, jika masyarakat bisa mengerti dan mengelolah maritim Indonesia pasti negara Indonesia akan menjadi negara yang kaya akan aspek laut.
Bung karno pun pernah berpidato saat pembukaan LEMHANAS tahun 1965 mengatakan “"Geopolitical Destiny" dari Indonesia adalah maritim. Kita sebagai bangsa Indonesia harus sadar akan pentingnya budaya bahari Indonesia. Tetapi Aplikasinya kita sebagai bangsa Indonesia kurang bahkan merusak budaya bahari Indonesia, seperti melakukan pukat harimau, memberi ranjau di perairan Indonesia. Perlu di ketahui bahwa maritim Indonesia sangat kaya akan hasil laut, bahkan banyak para pencari ikan ilegal dari negara tetangga mengambil hasil laut Indonesia secara diam diam. Apakah kita sebagai bangsa Indonesia tidak merasa sedih. Meskipun pemerintah telah melakukan berbagai cara seperti pada era Prof.Dr.ing B.J Habibie pada tahun 1998 Presiden BJ Habibie mendeklarasikan visi pembangunan kelautan Indonesia dalam “Deklarasi Bunaken”. Inti dari deklarasi tersebut adalah laut merupakan peluang, tantangan dan harapan untuk masa depan persatuan, kesatuan dan pembangunan bangsa Indonesia. Sejak tahun 1999 Presiden Abdurrahman Wahid menyatakan komitmennya terhadap pembangunan kelautan. Komitmen pembangunan pemerintah di bidang kelautan, diwujudkan dengan dibentuknya Departemen Eksplorasi Laut pada tanggal 26 Oktober 1999 dan menempatkan Sarwono Kusumaatmadja sebagai menteri pertama.
Pada bulan Desember nama departemen ini berubah menjadi Departemen Eksplorasi Laut dan Perikanan, dan sejak awal tahun 2001 berubah lagi menjadi Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) hingga sekarang. Tetapi tidak ada kerja sama dari masyarakat Indonesia hal itu akan sia sia. Oleh karena itu perlunya kerja sama antara pemerintah dan masyarakat untuk membangun budaya bahari di Indonesia. Jangan tinggalkan sejarah Indonesia dengan tujuan untuk membuat negara Indonesia menjadi lebih baik.

No comments:

Post a Comment