Dec 16, 2012



Budaya Gotong Royong

Oleh Dimas Riskyanto


Gotong royong merupakan suatu hal yang dilakukan untuk memperingan suatu pekerjaan. Gotong royong lebih cenderung pada suatu kebersamaan untuk mencapai suatu Tujuan. Indonesia merupakan salah satu negara yang menganut Ideologi ke gotong Royongan. Ideologi Gotong royong ini juga terdapat pada Ideologi pancasila. Sejak era orde lama pun Presiden pertama Indonesia juga sering berkata tentang makna “ Berdikari” berdiri diatas kaki sendiri. Berdikari tersebut sebenarnya sudah mengandung makna Gotong royong, bangsa Indonesia harus berbondong bondong, bekerja sama, bersusah payah untuk mensejahterakan dan membangun bangsa Ini tanpa ada Intervensi dari bangsa lain. Hal tersebut sudah mengandung makna gotong royong. Dengan bergotong royong kita dengan sepenuh hati dapat menyelesaikan suatu permasalahan.
Dengan kemajuan teknologi dan kehidupan serba canggil ini budaya gotong royong saat ini susah diterapkan. Masyarakat lebih suka yang serba instan dan cepat saji dengan menggunakan teknologi tanpa memakai bantuan orang lain. Hal ini terlihat nyata pada masyarakat perkotaan yang hidupnya ingin serba cepat. Apa yang diinginkan dengan kemajuan teknologi langsung terwujud. Padahal kalau kita renungkan dengan menggunakan teknologi yang canggih negara kita berarti ketergantungan pada bantuan luar negeri dan menguntungkan luar negeri. Berarti hal tersebut sangat bersimpangan pada pendapat Ir. Soekarno yang menyatakan bahwa berdikari harus di utamakan. Tetapi saat ini bukan berdikari yang diutamakan tetapi berdiri diatas kaki orang asing yang diutamakan. Memang tidak mudah menerapkan budaya gotong royong di samping kemajuan IPTEK yang semakin pesat.
Disamping budaya Iptek yang sangat pesat dan semakin berkembang memang melunturkan budaya gotong royong. Tetapi tidak pada masyarakat desa. Memang kehidupan teknologi pada masyarakat desa sangat minim, sangat tertinggal. Tetapi jangan sangka kehidupan gotong royong masyarakat desa sangat bagus, sangat komplit. Sebagai masyarakat kota sebaiknya kita perlu menghargai masyarakay desa. Karena masyarakat pedesaan lah yang lebih menerapkan apa yang dinamakan gotong royong. Dalam masyarakat desa rasa kekeluargaan lebih di utamakan tetapi pada masrakat kota rasa keegoisan yang diutamakan.
Kita sebagai masyarakat kota harus banyak belajar dari masyarakat desa, bukan malah kita menghina, mencela masyarakat desa. Tanpa masyarakat desa kita juga akan menemui banyak kekurangan. Warga suatu masyarakat pedesaan mempunyai hubungan yang lebih erat dan lebih mendalam ketimbang hubungan mereka dengan warga masyarakat pedesaan lainnya. Sistem kehidupan biasanya berkelompok atas dasar sistem kekeluargaan (Soekanto, 1994). Selanjutnya Pudjiwati (1985), menjelaskan ciri-ciri relasi sosial yang ada di desa itu, adalah pertama-tama, hubungan kekerabatan. Sistem kekerabatan dan kelompok kekerabatan masih memegang peranan penting. Penduduk masyarakat pedesaan pada umumnya hidup dari pertanian, walaupun terlihat adanya tukang kayu, tukang genteng dan bata, tukang membuat gula, akan tetapi inti pekerjaan penduduk adalah pertanian. Pekerjaan-pekerjaan di samping pertanian, hanya merupakan pekerjaan sambilan saja .
Golongan orang-orang tua pada masyarakat pedesaan umumnya memegang peranan penting. Orang akan selalu meminta nasihat kepada mereka apabila ada kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Nimpoeno (1992) menyatakan bahwa di daerah pedesaan kekuasaan-kekuasaan pada umumnya terpusat pada individu seorang kiyai, ajengan, lurah dan sebagainya.
" Pedesaan memang terbelakang untuk masalah IPTEK. tp masalah Gotong royong masyarakat Desa selalu di depan. saya salut."
Dimas riskyanto


No comments:

Post a Comment